Thursday, 31 March 2011

Islam di Andalusia, Spanyol

Sebelum kedatangan Islam, Andalusia diperintah oleh seorang pemimpin dari bangsa Ghotic yang sangat lalim yaitu Raja Roderick. Kaum Muslim tiba di pantai benua Afrika dipimpin oleh Thariq bin Ziyad pada tahun 711, dengan jumlah pasukan hanya sekitar dua belas hingga tujuh belas orang saja berhasil mengalahkan tentara Roderick yang berjumlah sekitar seratus ribu orang di daerah tepi Guadalete. Sultan Roderick pun tewas walaupun ada yang mengatakan bahwa Sultan lalim itu hilang tak jelas rimbanya, yang mengagumkan rakyat negeri ini menyambut kedatangan kaum muslim yang telah membebaskan mereka dari Raja lalim yang membuat hidup mereka bagai di neraka.

Thariq bersama Musa (yang waktu itu merupakan gubernur wilayah Afrika kekhalifahan Bani Umayah) terus memperluas wilayah kekuasaan Islam di bumi Andalusia dengan bantuan penduduk yang terkesan dengan keluruhan akhlak para prajurit muslim. Perlahan-lahan penduduk Andalusia mulai memeluk agama Islam tanpa paksaan, dan yang masih mempertahankan agama Nasrani dan Yahudi tetap diperlakukan dengan baik dan diberi kebebasan untuk melakukan ibadah mereka selama tidak mengganggu umat Muslim . Itulah awal cahaya Islam menerangi bumi ini, membebaskan manusia dari kegelapan yang menyelubungi jiwa dan hati mereka dan mengisinya dengan Tauhid yang sesungguhnya, tidak ada Tuhan yang patut disebab melaikan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Setelah terjadi perpindahan kekuasaan dari tangan Bani Umayah di Damaskus, Syiria ke Bani Abasyah di Baghdad, pada tahun 788 H datanglah keturunan Bani Umayyah yaitu Abdurahman I yang kemudian memimpin negeri ini dengan keadilan dan kearifan. Kordoba dibangun dan dijadikan pusat pemerintahan olehnya. Bumi Andalusia diberkahi, cahayanya begitu mempesona karena mereka berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah. Di bawah kepemimpinannya yang dinamis, kaum muslim menjadi umat yang tidak tertandingi dalam segala bidang. Dalam masa ini, Andalusia diperkenalkan dengan metode-metode pertanian baru, sistem irigasi yang sangat menakjubkan, budi daya tebu, kapas, beras dan juga buah-buahan. Tidak ada tanah yang dibiarkan menganggur, kaum muslim mengelolanya tanpa kenal lelah dan dengan keterampilan yang begitu tinggi. Mereka juga unggul dalam bidang industri dengan hadirnya berbagai industri seperti seni pembuatan kertas, gelas dan sutera serta senjata-senjata (senjata buatan Toledo sangat terkenal di mana-mana). Semua dapat terjadi karena setiap muslim pada waktu itu sangat produktif dan pantang bermalas-malasan seperti pemimpinnya. Setiap anggota keluarga menyumbangkan bagian kerjaannya untuk kemashlahatan umat.

Kemajuan dalam industri dan pertanian kemudian didukung oleh hadirnya para saudagar muslim yang terkenal dengan kejujuran dan ketulusan hatinya. Mereka sangat teguh dalam memegang janji dan akhlak mereka mencerminkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Kordoba kemudian berkembang seperti bunga mekar yang harumnya sampai tercium kesekelilingnya membuat banyak orang terpikat karena keharumannya dan terkesima ketika datang menyaksikan kecantikannya. Berbondong-bondong pelajar datang dan menetap di sana. Masjid-masjid dibangun dan menjadi sekolah-sekolah untuk mempelajari agama Islam, Bahasa Arab dan ilmu pengetahuan lainnya. Tak terkecuali orang-orang Nasrani yang berada di negeri-negeri Kristen, mereka turut merasakan kemakmuran dan kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Kordoba menjadi pusat belajar terbesar di Eropa ketika sebagian besar masyarakat di benua itu terjerembab pada masa kegelapan.Puncak kejayaan kekuasaan muslim terjadi pada masa pemerintahan Abdurahman III yang memerintah selama lima puluh tahun. Dia merupakan pemimpin Andalusia pertama yang diberi gelar Khalifah atau Amirul Mukminin.

Begitulah, sebuah perdaban besar yang besandar kepada penghambaan pada Allah SWT telah lahir di bumi Eropa. Ketika Al Quran dan Sunnah dipraktikan dalam setiap aspek kehidupan, baik itu dalam beribadah kepada Allah, berinteraksi dengan orang lain, mengerjar ilmu pengetahuan, berdagang, dan dalam pertempuran, maka kemuliaan dan kemenangan akan diperoleh oleh umat muslim di dunia maupun di akhirat. Karena Islam adalah jalan hidup, bukan sekedar budaya atau seni yang tercermin dari karya-karya fisik dan materi. Peradaban Islam yang sesungguhnya tercermin dari tingkah laku sebagian besar masyarakatnya yang menjunjung nilai moral yang tinggi dan hatinya terikat hanya pada Allah SWT. Hal itulah yang sering terlupakan oleh masyarakat muslim sesudahnya yang kemudian terbuai oleh kelimpahan materi dan terbutakan dari urusan akhirat. Setelah kematian Muhammad bin Abi Amir dan (Khalifah Al Mansur) pada tahun 1002 M kemudian digantikan oleh puteranya Al Muzhaffar yang memerintah hanya selama enam tahun, kekhalifahan Andalusia mulai terpecah menjadi banyak kerajaan kecil (taifa) yang saling berperang satu sama lainnya dan mendahulukan kepentingan pribadi dari pada kepentingan din Islam.

Kondisi perpecahan ini kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam yang kekuatannya perlahan-lahan bangkit seiring dengan lemahnya keimanan umat Islam. Dengan bantuan senjata dan prajurit salibis, umat muslim menyerang saudara sebangsa mereka dan menghancurkan agama mereka sendiri secara perlahan-lahan. Muslim di Andalusia mulai minum minuman keras dan melewatkan waktu mereka dalam pesta pora. Mereka menjadi konsumtif dan jatuh dalam kondisi korup yang luar bias sehingga rakyat menjadi sedemikian menderita dan mengalami kemiskinan. Dalam kondisi seperti ini, umat Yahudi, yang sebelumnya melayani orang-orang termasyur di negeri-negeri muslim, melihat kesempatan emas yang terbentang luas di hadapan mereka dan mulai mengambil alih segala urusan umat Islam. Di bawah kepemimpinan Alfonso IV pada tahun 1072, kota-kota muslim jatuh ke tangan kaum kristen satu demi satu. Leon, Castilia, Portugis dan berpuncak pada perebutan Toledo setelah pengepungan selama tujuh tahun. Alfonso IV memproklamirkan dirinya sebagai ”Kaisar Spayol” dan mulai menarik upeti dari hampir seluruh taifa yang ada di bumi Andalusia.

Setelah itu pada tahun 1086 Al Mu’tamid dari Seville meminta bantuan dari saudara mereka di Afrika agar bisa dibebaskan dari Alfonso IV yang mengancam agar dia menyerahkan semua bentengnya. Yusuf Bin Tasyfin, gubernur dari Maroko yang sholeh, meresponnya dengan memimpin sendiri pasukannya menuju Andalusia. Kaum muslim berhasil memukul mundur prajurit Alfonso IV dan wilayah Andalusia bisa kembali bersatu dalam kekuasan umat Islam. Cahaya Islam kembali bersinar di negeri ini. Kemudian Kepempimpinan sempat berpindah dari kaum Murabitun kepada Al Muwahhidun pada akhir abad ke 12 dan awal abad 13, sebelum akhirnya kerajaan monarki Spayol dibawah pimpinan Sultan Ferdinand dari Aragon berhasil menaklukan hampir seluruh dataran Andalusia akibat perselisihan dan perang saudara yang menggerogoti kekuasaan kaum muslim. Kordoba jatuh pada tahun 1236, Valencia 1238 dan Seville pada tahun 1248 karena persatuan umat muslimin tak ubahnya sehelai daun kering yang sangat rapuh dan mudah terkoyak. Selama dua setengah abad lamanya Kerajaan Granada di bagian selatan, adalah satu-satunya kerajaan muslim yang tegak berdiri di antara puing-puing kekhalifahan Andalusia. Walaupun sejak lima tahun yang lalu hampir semua kota kecil di daerah yang mengitari Granada seperti Malaga telah jatuh ke tangan kaum kristen. Kota benteng Granada satu-satunya yang tersisa sebagai benteng terakhir umat muslim di bumi Eropa, namun akhirnya jatuh ketangan kaum Kristen pada tahun 1492.

Sumber : Ahmad Thomson dan Muhammad Ata Ur Rahim, Islam Andalusia, Sejarah Kebangkitan dan Keruntuhan, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2004

Monday, 15 November 2010

Pendidikan Spiritual


Peradaban Islam adalah peradaban ilmu yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dari pembangunan masyarakatnya. Tidak ada agama selain Islam yang menjadikan aktivitas mencari ilmu sebagai suatu ibadah dan merupakan kewajiban bagi tiap-tiap individu. Ibn Khaldun mengatakan pendidikan haruslah diletakkan sebagai bagian integral dari peradaban karena peradaban sendiri adalah isi pendidikan. Namun, nilai ideal pendidikan Islam yang bersifat transenden dan integral, tidak memisahkan antara alam fisik dan alam metafisik, harus tersingkir akibat beberapa faktor eksternal maupun internal yang dialami oleh umat Islam. Peradaban Barat yang sekular-liberal kemudian berhasil menyebarkan worldviewnya melalui ilmu pengetahuan, baik sains maupun humaniora, ke hampir seluruh wilayah dunia dan terjadilah seperti apa yang dibayangan filsuf asal Perancis, Auguste Comte, pada abad ke 19, bahwa kebangkitan sains Barat akan menggantikan agama dari peradaban.

Kebangkitan sains di Barat juga telah menggantikan jiwa manusia dengan akal pikirannya. Tubuh manusia dianggap tak lebih dari sebuah mesin yang sempurna diatur, dan bekerja dengan prinsip-prinsip hukum matematika. Fritjof Capra seorang ilmuwan Barat dalam bukunya The Turning Point mengungkapkan kegelisahannya. Menurutnya, saat ini ahli-ahli dalam berbagai bidang tidak lagi mampu menyelesaikan masalah-masalah mendesak yang muncul dalam bidang keahlian mereka. Para ekonom tidak mampu lagi memahami inflasi, onkolog bingung tentang penyebab kanker, psikiater dikacaukan oleh schizofrenia, polisi semakin tidak berdaya oleh semakin tingginya tingkat kriminalitas. Ia menambahkan bahwa sebagian besar akademisi menganut persepsi-persepsi realitas yang sempit yang tidak cukup untuk menyelesaikan masalah-masalah besar yang merupakan masalah sistemik, artinya, persoalan tersebut saling berhubungan dan saling bergantung (Capra, 2004 : 8-9).
Problematika dunia Barat bukan sekedar problem intelektual, melainkan lebih pada krisis emosional atau lebih tepatnya krisis eksistensial. Ketika sains menjadi menjadi agama baru maka timbulah spiritual phatology, krisis makna, dan masalah kejiwaan lainnya. Agama Kristen telah lama ditinggalkan oleh pengikutnya sehingga Barat sangat bergantung kepada psikologi untuk memahami manusia dengan segala problematikanya. Psikologi klasik di Barat pada awalnya terkait erat dengan agama Kristen, yaitu ketika pada abad ke 13, Thomas Aquinas memadukan psikologi dengan teologi dan etika Kristiani. Namun akhirnya psikologi berangsur-angsur mengadopsi filsafat materialisme dengan munculnya pemikiran Decardes, dan positivisme dari tradisi sains Cartesian-Newtonian yang mengubah secara radikal pokok kajian dan metode psikologi. Kemudian lahirlah aliran psikologi seperti behaviorisme dalam tradisi Watson dan Skinner, dan psikoanalisis yang berasal dari Freud. Sehingga Pada awal abad ke 20, buku-buku teks psikologi telah kehilangan semua referensi tentang kesadaran emosi, dan kehendak .(Graham, 2005 : 34)
Selanjutnya masyarakat Barat yang rasional dan memuja metode ilmiah, tertawan oleh ide spiritualitas dan mengadopsi budaya mistis Timur seperti Tao, Budhisme, Zen, Yoga dan berbagai bentuk meditasi lainnya. Persentuhan tersebut memunculkan aliran psikologi seperti psikologi humanistik serta psikologi transpersonal atau transhuman yang lebih berpusat pada alam semesta (cosmos) dari pada kebutuhan atau kepentingan manusia. Sebuah intitusi pendidikan di Amerika, yaitu Institut Esalen di Big Sur, California, pada awal pendiriannya di tahun 1966, mengundang eksponen dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari Kebudayaan Timur dan Barat, termasuk Yoga, meditasi, pengubah kondisi kesadaran, seni bela diri, tarian, pemuka agama, filsuf, artis, ilmuwan, dan psikolog untuk bertukar pandangan dalam seminar dan workshop serta program-program lainnya dalam rangka mewujudkan tujuan Institusi ini sebagai pusat pendidikan yang mencakup dimensi spiritual dan intelektual. Pertemuan ini diklaim telah menghasilkan berbagai pendekatan, dan juga teknik-teknik yang diturunkan dari filsafat dan agama-agama Timur atau tradisi esoteris yang dicangkokkan pada psikologi Barat (Graham, 2005: 73).
Topik mengenai spiritualitas kemudian bermunculan dan menjadi cover story majalah terkenal di Amerika seperti USA Today dan Newsweek. Majalah Time pada tahun 2003 melaporkan bahwa di Amerika, meditasi diajarkan di sekolah-sekolah, rumah-rumah sakit, firma-firma hukum, institusi pemerintahan, kantor-kantor korporasi, dan penjara. Bahkan Hotel-hotel di wilyah Catskills, New York, berubah menjadi tempat-tempat meditasi dengan begitu cepat sehingga menurut Joel Stein, seorang penulis di Time, kawasan Borscht Belt beralih nama menjadi Buddhist Belt (Aburdene, 2006 : 7).
Fenomena di atas tidaklah mengherankan, karena Barat memang memiliki kerancuan dalam mengkonsepsikan spiritualitas dan agama disebabkan pemikiran mereka yang dualistik, yaitu memisahkan antara dunia material dan spiritual. Sebagian besar ahli psikologi Barat memandang spiritualitas bersifat personal dan berada pada ranah psikologis, sedangkan agama bersifat institusional dan pada ranah sosiologis. Beberapa menyatakan bahwa agama diasosiasikan dengan konservatif (conservatism) dan spiritualitas dikaitkan dengan keterbukaan untuk berubah (openes to change) (Hood, 2009 : 9-10). Konsekuensinya, spiritualitas bisa dicapai dengan atau tanpa melalui agama. Dalam konsep spiritual Barat, spiritualitas dapat dibangun melalui banyak cara, sebagai contoh, melalui agama, pemikiran, doa, meditasi atau ritual (Best, 2000 : 10).
Konsepsi Barat tentang spritualitas yang problematis telah melatarbelakangi munculnya model pendidikan dan pelatihan spiritual yang mengkombinasikan berbagai macam ajaran mistis, sains, psikologi, dalam rangka membangun kecerdasan spiritual (SQ) manusia. Konsep SQ sendiri lahir dari rahim Barat sehingga upaya-upaya meningkatkan kecerdasan spiritual ala Barat pada umumnya tidak mengajarkan manusia menjadi makhluk yang mengakui kebesaran Tuhan dan tunduk pada syariat yang diturunkan-Nya. Menurut Zohar, SQ merupakan perangkat kejiwaan hasil evolusi selama jutaan tahun, yang memungkinkan manusia modern melepaskan kerinduan spiritual mereka tanpa melalui agama formal. SQ adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta itu sendiri, begitu pendapat Zohar dalam bukunya Spiritual Intelligence yang telah diterjemahkan di Indonesia .
Dalam pandangan Islam, spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari Tuhan dan agama (religion). Spiritualitas hanya dapat diperoleh melalui jalan syariah Islam yang bersumber dalam al Quran dan Hadits serta telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, sahabat dan generasi salafusalih. Jalan-jalan spiritualitas dengan mengabaikan syariah akan membuat pengikutnya jauh dari kebenaran Islam dan pelakunya tidak akan memperoleh kedamaian hakiki di dunia maupun akhirat.
Konsep kecerdasan spiritual dalam Islam juga sangat jauh berbeda dengan Barat karena SQ di Barat hanya berhenti pada kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari sesuatu yang besar yaitu alam semesta, sedangkan Islam menganggap alam semesta hanyalah makhluk Allah sebagaimana manusia, yang tunduk kepada aturan dan perintah Allah. Oleh karena itu tujuan pendidikan spiritual dalam Islam harus mampu membentuk individu-individu muslim yang paham hakikat eksistensinya di dunia ini serta tidak melupakan hari akhir dimana dirinya akan kembali. Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali bahwa pendidikan harus diarahkan kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan taqarrub kepada Allah, dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia.

Saturday, 22 May 2010

I've Got My Lesson


Ketika saya dan teman-teman membahas kitab Imam Al Ghazali sabtu lalu, saya dibuat terdiam tanpa kata. Saat itu hawa dingin tiba-tiba menjalari seluruh tubuh saya. Saya merasa ulama besar ini sedang berbicara langsung kepada saya. Dengan wajah teduh dan tatapan matanya yang terang, dia seolah mengingatkan betapa celaka seseorang yang berilmu tinggi, tetapi miskin amal.

Sampai di situ saya seperti kehilangan konsentrasi. Tidak ada kebetulan di dunia ini, Allah SWT tahu betul apa yang dibutuhkan makhluk-Nya. Pada saat seorang hamba benar-benar memohon untuk selalu diberikan petunjuk, Dia akan memercikan sedikit cahaya ke dalam hati sang hamba. Saya sadar, Allah SWT sedang mengirimkan pesan pada saya, mengingatkan agar saya tetap berjalan dalam rel dan tidak berbelok ke arah kesesatan yang tampak indah di depan mata.

Lalu teman melanjutkan membacakan kitab tersebut, sampai pada satu paragraf yang membuat dada saya semakin terasa sempit. Katanya, jika seseorang telah mencapai usia 40 tahun dan kebaikannya tidak melebihi keburukannya, maka ia dekat dengan neraka. Saya lagi-lagi tersontak, memandang gelisah ke arah seorang teman, yang sepertinya dijalari rasa panik yang sama. Mencoba menghitung tahun demi tahun yang berlalu tanpa terasa. Berapa sisa umur yang masih tersisa ? apakah kami masih sempat memperbaiki segala kesalahan yang sudah menggunung ?

Akhirnya pembacaan kitab itu berakhir. Saya meminta teman saya menyudahinya karena saat itu jiwa saya lepas dari raga, alias sudah gak mudeng lagi. Dalam perjalanan pulang saya terus merenung, mencoba berdamai dengan perasaan saya yang hampir meledak. Saya turun di stasiun Pondok Cina, padahal seharusnya hari itu saya pulang ke Tanjung Barat, hanya karena ingin mengembalikan pikiran saya yang sedang berkelana entah kemana. I've got my lesson.

Ternyata semua belum berakhir. Keesokan harinya seorang teman dari belahan bumi Eropa, bertanya pada saya. “Najma, apakah kamu harus selalu belajar ?" saya menjawabnya dengan berbagai macam argumentasi, bagaimana Islam menyuruh umatnya untuk berlajar sampai ke liang kubur, dan ada 114 surat dalam Al Qur’an berbicara tentang pendidikan dan prinsip-prinsipnya. Teman saya itu kemudian menjawab dengan singkat , “love to take you fishing in the cold ,you would learn about frozen finger tips”. Saya terhenyak. Kata-katanya seolah menampar wajah saya. Kawan saya itu seorang photographer, petualang sejati dan tergila-gila memancing. Oh ya satu lagi…dia seorang atheis dan mulai tertarik belajar Islam dari saya. Tapi justru saya merasa, saat itu dialah yang sedang mengajari saya , bahwa belajar tidak cukup hanya dengan teori tetapi harus diiringi dengan praktek dan mengalaminya sendiri.

Saya merenung renung, apakah percepatan pengetahuan yang saya dapat , melebihi percepatan amal yang saya kerjakan ? Apakah pengetahuan yang terkumpul dalam kepala saya, belumlah banyak berguna? Saya teringat pesan Imam Al Ghazali pada muridnya, bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang semakin mendekatkan seseorang pada Allah SWT. Sudahkah saya mencintai Allah, melebihi cinta saya pada makhluk Nya ? Sudahkan saya meninggalkan semua pekerjaan sia-sia, yang hanya akan menjauhkan rahmat dan kasih sayang-Nya ?

Saya menarik nafas dengan berat, menahan rasa panas di kedua mata saya.
I’ve got my lesson. Semoga saya masih diberi kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

Depok, 1:43 pm, today ...

Friday, 27 November 2009

KONSEP PENDIDIKAN MUHAMMAD IBN SAHNUN

"The contribution of Ibn Sahnun in declaring education as an independend field of knowledge are yet to be given enough attention for research, evaluation and testing. It is high time that such scholarly and elegantly produced theories are properly studied and analysed to enrich the human experiences in teh field of education and learning." (Sha'ban Muftah Ismail, 1995)

Muhammad Ibn Sahnun dilahirkan pada tahun 202 Hijriah di Qayrawan. Sejak kecil Muhammad Ibn Sahnun sudah menunjukan kecerdasannya dalam belajar. Ayahnya, Abi Sa’id Sahnun, merupakan guru pertamanya dan sangat memahami karakter dan kepribadian Ibn Sahnun. Perhatian sang ayah terlihat dari surat yang ditulis beliau kepada gurunya ketika ingin mengirim Ibn Sahnun ke Kuttab (sekolah Al Qur’an). Sang ayah benar-benar mempersiapkan Ibn Sahnun secara intelektual dan akademis. Selain itu kondisi sosial cultural di wilayah Qayrawan pada saat Ibn Sahnun lahir, sangat menunjang pengembaraan intelektualnya. Abad ke-2 hijirah, wilayah Afrika utara sangat terkenal di seluruh dunia akan kemajuan ilmu pengetahuannya. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya ilmuwan dari wilayah timur yang hijrah ke barat, yaitu maghrib, al qayrawan, Andalusia, Toledo, dan lain-lain. Buku-buku pengetahuan banyak ditulis dan diterbitkan, universtas memainkan peran utamanya dalam pencarian ilmu pengetahuan, institut/ sekolah teknik dan kejuruan banyak didirikan yang mengajarkan kedokteran, teknik, ilmu matematika, kimia, bahasa, seni rupa, astronomi dan translasi.
Kontribusi Ibn Sahnun bagi pendidikan sangatlah banyak terutama dalam hal metodologi pengetahuan dan penelitian. Dia merupakan muslim pertama yang menggulirkan teori pendidikan. Berkat buku beliau yang berjudul Kitabu Al adab Mu’allimun (adab seorang guru) maka sejak saat itu pendidikan menjadi disiplin ilmu tersendiri karena buku tersebut merupakan buku pertama yang membahas secara khusus mengenai teori pengajaran dan pembelajaran. Ibn Sahnun mampu mengintegrasikan isu pendidikan yang berbeda-beda yang menyangkut orangtua, akademisi, komunitas, pemimpin dan para pendidik yang peduli pada masanya.
Ibn Sahnun menaruh perhatian mendalam terhadap peran guru dalam pendidikan. Beliau tidak menafikan peran elemen pendidikan lainnya, tetapi baginya, guru merupakan elemen terpenting yang harus diprioritaskan karena guru merupakan wakil orang tua. Guru harus mencurahkan segenap perhatiannya bagi sang murid dan harus terlibat secara penuh walau tetap harus memperhatikan batas-batasnya agar murid tidak merasa dikontrol secara ketat oleh sang guru. Oleh karena itu kesejahteraan guru harus sangat diperhatikan sehingga mereka tidak harus mencari pekerjaan sampingan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Beliau membuat kualifikasi yang harus dipenuhi seseorang apabila ingin menjadi profes seorang guru seperti kualifikasi akademis, hapal Al Qur’an dan mampu membacanya dengan baik, memiliki pemahaman tentang fikih Islam, tata bahasa arab, kaligrafi dan lain-lain. Selain itu seorang guru harus memiliki perilaku Islami, jujur, shaleh, bertanggung jawab terhadap anak didiknya bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat nanti. Seorang guru harus mempelajari psikologi anak dan memperlakukan setiap anak dengan istimewa dan tidak melakukan kekerasan terhadap anak secara fisik ataupun mental dengan kata-kata kasar dan kejam. Ibn Sahnun berpendapat penerapan disiplin bagi siswa tidak dimulai dengan hukuman fisik / pukulan. Walaupun demikian beliau tidak mengharamkan penggunaannya tetapi menetapkan ukuran dan efek dari alat yang diperbolehkan untuk digunakan dalam hukuman fisik serta frekwensinya.

Dalam hal manajemen kelas, Ibn Sahnun memberi kebebasan bagi guru agar tidak terpaku dengan kegiatan di dalam kelas. Guru bebas mengajak anak didiknya beraktivitas di luar kelas, berinteraksi dengan lingkungan dan alam sekitar serta memantau perilaku mereka di tengah masyarakat. Guru harus mempersiapkan materi/ bahan ajar dan perlengkapan penunjang kegiatan belajar mengajar sebelum memulai pelajaranya. Menurutnya, seorang guru tidak boleh memerintahkan sang murid membawakan materi yang dia lupa persiapkan ke dalam kelas. Menurut Ibnu Sahnun, Indikator keberhasilan seorang guru dapat dengan mudah dilihat dari tingkat pemahaman seorang siswa terhadap mata pelajaran.
Ibn Sahnun memberi pandangannya mengenai kurikulum belajar anak. Dia mengkombinasikan pelajaran Al Qur’an dengan praktek langsung dari teks yang telah dipelajari. Guru harus menunjukan kepada anak bagaimana mempersiapkan diri ketika sholat lima waktu terutama ketika mereka telah mencapai usia tujuh tahun, seperti membersihkan diri sendiri , berwudhu dan bagaimana sholat dengan khusyuk. Pengajaran sholat lima waktu semestinya dapat membantu siswa memahami ibadah wajib dan sunah dan mampu beribadah dengan penuh pengabdian kepada Allah SWT.
Al Qur’an merupakan pengetahuan yang wajib dipelajari bagi setiap siswa. Dalam pengajaran Al Quran hendaknya diajarkan akar kata serta asal katanya sehingga dapat memberikan gambaran secara menyeluruh kepada siswa dan bukan pemahanan parsial. Guru harus mengajarkan pengetahuan tambahan diataranya matematika, puisi, bahasa arab, pidato dan sejarah. Ibn Sahnun membuka pintu seluas-luasnya bagi guru dan orang tua untuk mengajarkan apa saja kepada anak sepanjang hal tersebut berguna dan dapat membantu perkembangan mental, sosial dan pendidikannya. Selain itu, salah satu keterampilan penting lainnya yang diusulkan oleh Ibn Sahnun untuk dipelajari adalah seni berpidato sehingga siswa mampu melakukan debat dan menunjukan pandangan berbeda serta mengungkapkan idenya melalui bukti dan contoh yang ada. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Ibn khaldun. Menurutnya, terjadinya penurunan kemampuan ilmiah dan akademis di wilayah Ifriqiah (Tunisia, Libya, dan wilayah afrika lainnya), Al Maghrib (Maroko), dan Andalusia (Spayol) karena guru tidak mengajarkan seni berpidato (speech art) sehingga siswa hanya mampu menghapal dan mengulangi apa yang mereka tahu.

Referensi :
Sha’ban Muftah Ismail, Muhammad Ibn Sahnun : An Educationalist and Faqih, Muslim Education Quarterly, Vol. 12, No. 4,The Islamic Academy, Cambridge, 1995.

Saturday, 18 July 2009

ISLAM AGAMA FITRAH

By : Najma Syira

Islam stands for harmony and perfectibility with an unmatched depth and breadth of scope that comprises all aspects of spirit and life. In knows all the roads that lead to blessing and happiness. It has the cure for human ills, individual and social, and makes them as plain as the wit of man can devise or comprehend. It sets our to develop all sides of each person .(Lari, 2000 : 52)

Islam merupakan agama sempurna yang diturunkan Allah kepada Rasulullah SAW. Sebagai agama yang sempurna, Islam memiliki karakteristik yang tidak dimiliki agama-agama lainnya. Salah satu karakteristik yang dimiliki oleh agama Islam adalah Insaniah. Menurut ulama besar Yusuf Al Qadhawi, Islam merupakan agama yang diturunkan untuk manusia, karena itu Islam merupakan satu-satunya agama yang cocok dengan fitrah manusia. Pada dasarnya, tidak ada satupun ajaran Islam yang bertentangan dengan jiwa manusia. Seorang ulama besar mesir lainnya, Muhammad Al Ghazali dalam bukunya “Menjadi Muslim Ideal” mengatakan dan menyerukan kepada mereka yang tidak mengenal Islam dan mereka yang sempit dalam memahamiya bahwa Islam adalah agama dien fitrah. Beliau menuturkan lebih lanjut bahwa agama Islam sangat variatif dalam setiap sendi kehidupan manusia yaitu seruan menuju perilaku kehidupan yang lurus dan arah pemikiran yang benar, dan petunjuk-petunjuknya yang tetap berupa kaidah yang bergerak dalam mengarahkan jiwa menuju kesempurnaan dari kebimbangan. (2003 :1)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia yang tidak mengetahui.” (QS 30 : 30)

Islam adalah ajaran fitrah di mana Nabi Muhammad diutus untuk menjelaskan ajaran kebenaran-Nya dan memperlihatkan tuntunan-Nya, serta mengembalikan manusia kepada jalan yang lurus setelah manusia dikuasai oleh bujuk rayu setan. (Ghazali, 2003 : 14). Sedangkan pengertian fitrah sendiri adalah kejadian asli, ciptan, tabi’I (alamiah), dan bukan berarti agama. Islam juga disebut agama fitrah karena agama ini merupakan ciptaan Allah, sebagai agama yang asli diturunkan oleh Allah kepada manusia, dan Dia tidak pernah menurunkan agama lain selain Islam (Kaelany, 2006 : 42)

Mengapa sifat insaniah mendapatkan perhatian yang besar dalam pembahasan karakteristik agama Islam ? Jawabannya adalah karena manusia merupakan makhluk yang unik. Dia adalah subyek sekaligus obyek dari pengkajian agama itu sendiri. Hasil pengamatan yang mendalam dan terstruktur sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan itu kemudian menempatkan manusia dalam berbagai teori, sangat tergantung dari sudut pandang mana orang melihatnya. Aliran psikoanalisis memandang manusia sebagai homo volens atau manusia yang selalu digerakan oleh keiginan-keinginan; aliran behaviorisme melihat manusia sebagai homo mechanicus karena ia degerakan semaunya oleh lingkungan. Aliran kognitif lebih melihat manusia sebagai homo sapiens, yaitu makhluk yang aktif mengorganisasikan dan mengolah stimuli yang diterimannya. Sedangkan aliran humanism, yang lebih anyar dari aliran-aliran tadi memandang manusia sebagai homo ludens, yaitu sebagai pelaku aktif dalam merumuskan starategi transaksional dengan lingkungannya. Informasi profetik, dalam hal in wahyu Al Qur’an, juga mempunyai konsepsi tentang manusia. Manusia adalah homo theophani atau makhluk berketuhanan yang harus selalu mempresentasikan kehendak Tuhan di bumi, dikenal dengan istilah khalifah Allah fi al-ardh (Hude, 2006 : 2)

Sebagai makhluk yang mengemban amanah Tuhan, maka manusia terikat oleh aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta dirinya. Dia juga terikat sunatullah atau aturan-aturan yang terdapat pada alam semesta. Jika manusia hidup tidak sejalan dengan aturan-aturan tersebut maka manusia akan mengalami kehancuran secara fisik atau mental. Islam tidak hanya mengatur manusia sebagai makhluk fisik, tetapi juga sebagai makhluk spiritual. Gelombang sekularisme di barat, yang juga telah menyapu negara-negara Islam, ternyata hanya menjadikan manusia sebagai robot-robot tanpa ruh yang bergerak untuk memuaskan nafsu fisiknya semata. Tak heran manusia modern abad ini, banyak yang mengalami goncangan goncangan kejiwaan akibat dari diabaikannya sisi spiritualitas mereka. Padahal menurut Fathudin Ja’far, bagian non-fisik yang ada alam diri adalah yang sangat menentukan warna dan gaya kehidupan manusia khususnya terkait perilaku dan kultur. Aggota tubuh atau bagian fisik hanya merupakan wadah dan alat untuk mengimplementasi kehendak, keinginan dan kecendrungan bagian non-fisik. Oleh sebab itu, dalam berinteraksi dengannya haruslah dengan sistem dan mekanisme yang sesuai dengan apa yang telah diciptakan Tuhan Penciptanya. Kalau tidak, kemungkinan kesalahan dalam treatment-nya dan mengoperasikannya sangatlah besar. “,(2007 :44).

Islam menjamin sistem dan mekanisme itu bekerja dengan baik dalam diri manusia. Karakteristik agama Islam terbukti sesuai dengan fitrah penciptaan manusia, artinya tidak ada satupun ajaran Islam yang tidak bisa diaplikasikan dalam kehidupa sebenarnya. Islam bukanlah konsep yang mengawang-awang tetapi ajaran islam yang detail dan membumi, membuat agama ini sesuai dengan kondisi manusia dari fisik maupun non fisik. Islam tidak mengajarkan hal-hal yang menentang fitrah manusia seperti yang diajarkan oleh agama Kristen dengan sistem kerabian. Dengan Islam maka akan dihasilkan manusia-manusia yang hidup sejalan dengan firtrahnya. Menurut Al Ghazali, manusia dengan fitrah, akan bisa mengetahui kebenaran, maka ia pun akan mudah melihat perkara yang halal dan haram dengan jelas.

Selain sebagai agama fitrah, Islam juga merupakan agama yang jelas. Fitrah yang sempurna dan sejati, dan kejelasan yang tidak membuat akal megalami kesulitan untuk memahami ajaran-ajarannya. Karena itu Islam berbicara kepada akal, hati dan intuisi secara bersamaan. Di dalam islam tidak ada misteri-misteri Kristen (seperti misteri trinitas serta misteri pengorbanan dan perubahannya menjadi daging dan darah Yesus), yakni misteri yang tak ada seorang pun di antara tokoh-tokoh agama itu sendiri yang sanggup mengetahuinya secara rasional dan benar. Ide “perantara” atau mediasi antara Allah dengan hamba-hamba-Nya dalam agama Kristen, merupakan ide yang tidak dapat diterima akal. Allah-lah yang mengetahui setiap jiwa, tiada tabir yang membatasi antara Dia engan seseorang makhluk-Nya. Konsep Islam memandang bahwa setiap orang berhak berhubungan lansung dengan Allah melalui akal dan mengaturkan harapan Kepada-Nya tanpa perantara seorang tokoh agama. (Musa, 1988 : 25) Lebih lanjut Musa menjelaskan bahwa berkat Islam sebagai agama fitrah dan semua akidah dan ibadah yang diajararkannya masuk akal, jelas dan tidak kesulitan untuk memahaminya, agama yang penuh toleran itu tidak mengalami banyak goncangaan hebat seperti yang dialami agama Kristen karena mengandung kepercayaan dan misteri-misteri yang tidak bisa diketahui akal. (1988 : 28).

Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku sangat dekat dengan mereka. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku.” (QS Al Baqarah : 186)

Ketika manusia berjalan dengan cahaya Islam yang sesuai dengan fitrah, maka inilah kata putus yang telah diberikan Islam, jelas dan terang, suara yang berkumandang, membukakan bagi kita jalan keselamatan, membuatkan peta menuju kepada perdamaian bagi seluruh umat manusia, suatu perdamaian yang sempurna yang mencakup seluruh umat manusia, perdamaian yang bebas dari kedurhakaan , kebinasaan dan permusuhan. Islam adalah kekuatan pembebas, yang bergerak di atas dunia untuk membebaskan manusia dari rantai yang membelenggu mereka, dan memberikan kepada mereka kebebsan, cahaya dan kehormatan diri, tanpa menimbulkan suatu kefanatikan agama. (Sayid Quthb, 1987 :282).

DAFTAR PUSTAKA

Al Ghazaly, Muhammad, 2003, Menjadi Muslim Ideal, Meletakkan Islam sebagai Petunjuk dan Penerang Kehidupan, Srigunting, Jakarta.

Al-Qardhawi, Yusuf, 1997, Pengantar Kajian Islam, Studi Analistik Komprehensif tentang Pilar-pilar Substansi, Karakteristik, Tujuan dan Sumber Acuan Islam, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

Fathuddin Ja’far, 2007, SEI Empowerment (Spiritual, Emotional and Intellectual Empowerment), Road to The Great Success, Cetakan Kedua, Spiritual Learning Center, Depok.

Hude, M. Darwis, 2006, Emosi, Penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al Qur’an, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Kaelani, HD, 2006, Islam Agama Universal, Midada Rahma Press, Jakarta.

lari, Sayid Mujtaba Musawi , 2000, Western Civilization Through Muslim Eyes, Foundation of Islamic C.P.W, Iran.

Musa, Muhammad Yusuf, 1988, Islam, Suatu Kajian Komprehensif, CV Rajawali, Jakarta.

Quthb, Sayid, 1987, Beberapa Studi Tentang Islam, Media Da’wah, Jakarta.

Tuesday, 12 May 2009

Tuesday, 21 April 2009

Bahaya "Kesetaraan Gender"

And because radical feminism recommends putting women first, making them the primary concern, this approach is accord lesbianism “an honoured place’ as a form of ‘mutual recognition between women’ (Chris Beasley,1999)

Wacana dan isu kesetaraan gender menggema dalam khazanah intelektual muslim Indonesia dimulai pada tahun 1989, ketika jurnal Ulumul Qur’an (UQ) memuat tulisan karya Jane I. Smith dan Yvonne Haddad. Isu yang sama kemudian dimunculkan UQ setahun kemudian dengan menerbitkan tulisan seorang feminis Muslim asal Pakistan, Riffat Hassan. Kedua artikel ini memiliki corak yang sama yaitu berusaha membongkar pemikiran agama Islam, yang menempatkan perempuan di bawah subordinasi laki-laki. Dari situ kesetaraan gender mulai memikat hati sebagian intelektual muslimah, terutama mereka mengenyam pendidikan Barat melalui program woman study. Kehadiran lembaga donor internasional mempercepat perkembangan wacana dan pergerakan kaum perempuan di Indonesia. Lembaga-lembaga donor tak segan-segan mengucurkan dana untuk program-program pengembangan kesadaran gender di kalangan intelektual Islam maupun masyarakat luas. LSM-LSM yang menggarap pesantren-pesantren tradisional kemudian bermunculan, sebut saja FK3 (Forum Kajian Kitab Kuning), Rahima dan Puan Amal Hayati. ( Burhanudin-ed, 2004)

Timbul tanda tanya besar mengapa pihak Barat begitu bersemangat mengkampanyekan kesetaran gender di dunia Islam, ketika pada saat yang sama, isu tersebut mengalami stagnasi dan mulai ditinggalkan masyarakat Barat? Sangat disayangkan jika banyak intelektual muslim menutup mata terhadap bahaya pemikiran ini dan justru berperan sebagai agen dalam mempropagandakan kepada masyarakat luas. Umat Islam hendaknya tidak terpengaruh argumentasi yang menyatakan bahwa kesetaraan gender dapat menjadi solusi dari permasalahan kaum perempuan di dunia Islam, semisal kekerasan rumah tangga (domestic violence) , women trafficking, dan permasalahan sosial lainnya. Sampai saat ini, negara-negara Barat tidak pernah bisa membuktikan bahwa mereka berhasil mengatasi problematika sosial tersebut. Tetapi yang terjadi Justru sebaliknya, kehancuran moral telah merusak tatanan sosial masyarakat Barat, gerakan feminis kemudian disalahkan karena dianggap telah mengubah perempuan menjadi makhluk-makhluk gila karir dan menjauhkan mereka dari kehangatan keluarga.
Kelahiran feminisme sendiri tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelam masyarakat Barat pada abad pertengahan. Islam tidak pernah merampas hak kaum perempuan sebagaimana gereja merampas hak-hak individu dan sipil kaum perempuan selama ratusan tahun. Menurut McKay dalam bukunya a History of Western Society (1983), terdapat bukti-bukti kuat yang mengindikasikan bahwa perempuan telah dianggap sebagai makhluk inferior, bahkan pada tahun 1595, seorang profesor dari Wittenberg University melakukan perdebatan serius mengenai apakah perempuan itu manusia atau bukan. Doktrin dasar gereja menganggap wanita sebagai ibu dari dosa yang berakar dari setan jahat. Wanita jualah yang menjerumuskan lelaki ke dalam dosa dan kejahatan, dan menuntunnya ke neraka. (Maududi, 1995)
Kehidupan keras yang dialami oleh perempuan-perempuan pada saat gereja memerintah Eropa tertuang dalam essai Francis Bacon pada tahun 1612 yang berjudul Marriage and single Life (Kehidupan Perkawinan dan Kehidupan Sendiri), di mana disebutkan banyak laki-laki memilih untuk hidup lajang, jauh dari pengaruh buruk perempuan dan beban anak-anak sehingga dapat berkonsentrasi pada kehidupan publiknya. (Arivia, 2002) Mereka tidak memiliki hak untuk bercerai dari suaminya dengan alasan apapun, dan hak tersebut baru mereka peroleh pada tahun 1792 M melalui perjuangan yang berat. Perempuan Barat menjadi makhluk lemah dan tidak berdaya dilihat dari hampir seluruh aspek kehidupan. Kondisi tersebut sangat kontras dengan kondisi perempuan di dunia Islam pada kurun waktu yang sama. Sejak jaman Rasulullah, kaum perempuan telah meramaikan majelis-majelis ilmu, berpartisipasi dalam kegiatan bisnis, bahkan beberapa di antara mereka telah menorehkan tinta emas di medan peperangan, seperti Nusaibah di Perang Uhud dan Khaulah pada perang melawan Imperium Bizantium.
Beberapa feminis mengakui bahwa ajaran Islam lebih ramah terhadap perempuan dibanding Kristen, tetapi hal itu tidak menyurutkan niat mereka untuk terus mendekontruksi ajaran Islam. Para feminis menuduh bahwa fikih Islam dianggap paling bertanggung jawab terhadap pandangan-pandangan yang bias perempuan karena para fuqaha dianggap telah berkonspirasi untuk melestarikan hegemoni laki-laki atas perempuan. Nuansa kecurigaan seperti ini adalah khas para feminis yang terpengaruh ideologi Marxis, di mana perempuan ditempatkan sebagai kelas tertindas dan laki-laki sebagai kelas penindas. Dalam berbagai tulisan mengenai gender, para feminis berusaha mengkritisi teks-teks yangmenjadi sumber hukum Islam kemudian merubahnya sesuai dengan ide-ide feminisme. Terinspirasi dari pandangan Fatimah Mernissi, Mazhar ul-Haq Khan, Asghar Ali Engineer, serta tokoh-tokoh liberal lainnya, para feminis secara tendensius menggiring para muslimah untuk meyakini bahwa interpretasi ajaran Islam yang ada saat ini didominasi bias gender dan bias nilai-nilai patriakal, sehingga diperlukan pembacaan ulang dan dekonstruksi penafsiran lama. Penafsiran baru yang dimaksudkan oleh para feminis adalah tafsir hermeneutika feminis, yaitu metode historis-sosiologis yang digunakan Barat untuk merombak ajaran agama Kristen yang menyudutkan perempuan. Hasil penafsiran baru para feminis adalah produk hukum yang menyimpang sebagaimana kita saksikan pada tanggal 18 Maret 2005, Aminah Wadud, seorang feminis, memimpin shalat Jumat di sebuah Gereja di New York, yang diikuti sekitrar 100 jamaah, laki-laki dan perempuan.
Umat Islam perlu waspada karena kesetaraan gender telah menjadi salah satu agenda penting liberalisasi Islam. Target mereka adalah meracuni pemikiran para muslimah sehingga mereka dengan sukarela meninggalkan nilai-nilai luhur Islam dan melepaskan simbol-simbol agama yang dianggap tidak sesuai lagi dengan masyarakat modern. Feminisme dan liberalisme memiliki akar yang sama yaitu relativisme, paham yang menganggap bahwa benar atau salah, baik atau buruk, senantiasa berubah-ubah dan tidak bersifat mutlak, tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial. (Shalahuddin, 2007) Maka tak heran jika gerakan feminis menyatakan dirinya sebagai ”gerakan pembebasan perempuan“.
Di negara-negara Barat, kebebasan tersebut kemudian diterjemahkan sebagai hak untuk melepaskan segala ikatan yang membelenggu aktivitas perempuan dalam mengaktualisasikan dirinya di ranah publik, baik ikatan agama maupun moralitas. Bangsa Perancis mulai memandang hubungan di luar nikah sebagai sesuatu yang biasa menjelang akhir abad ke 19, begitu juga negara Eropa lainnya dan Amerika. Isu kebebasan telah membuat perzinahan diakui sebagai hak individu dan bukan merupakan tindakan melanggar hukum. Laki-laki dan perempuan hidup bersama tanpa ikatan perlahan-lahan memperoleh status legal sehingga banyak perempuan di Barat memilih untuk tidak menikah dan menganggap pernikahan sebagai bentuk pengekangan terhadap kebebasan.
Isu kebebasan telah membuat para remaja putri tidak malu-malu lagi mengeksploitasi tubuh mereka dengan alasan perempuan memiliki kontrol penuh atas tubuh mereka sendiri. Perzinahan didukung oleh negara ketika alat-alat kontrasepsi dapat dengan mudah ditemukan di tempat-tempat umum. Sementara para orang tua tidak ambil pusing jika anak mereka melakukan hubungan sex di luar pernikahan, asal tidak terjadi kehamilan, karena menurut mereka, mengasuh dan mendidik anak-anak merupakan tanggung jawab moral yang tinggi. Tetapi jika kehamilan tidak dapat dihindari, kebanyakan perempuan Barat akan melakukan aborsi tanpa rasa bersalah. Gerakan perempuan di Barat telah berhasil melegalkan praktik aborsi dengan dalilh perlindungan terhadap hak-hak reproduksi perempuan. Bagi perempuan yang masih memiliki hati nurani, mereka memilih menjadi single parents walau konsekuensinya anak-anak itu terlahir dan tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya. Saat ini, eksploitasi terhadap kaum perempuan dan anak-anak semakin merajalela, yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Kesetaraan gender juga menyuburkan praktek homoseksual dalam masyarakat. Hillary Lips, seorang tokoh feminis Barat, dalam buku a New Psychology of Women ;Gender, Culture, and Ethnicity, mengungkapkan bahwa gender tidak terdiri dari dua jenis, yaitu feminin dan maskulin seperti umumnya diketahui oleh masyarakat luas. Beliau mengakui adanya gender ketiga yang bersifat cair dan bisa berubah-ubah, dan telah dikenal oleh masyarakat pada berbagai macam budaya yang berbeda. Gender ketiga ini tidak bisa dikategorikan sebagai feminin atau maskulin, tetapi mereka adalah kaum homoseksual dan transvestite (seseorang yang senang berpakaian gender lainnya). Pengakuan terhadap adanya gender ke tiga membuat kaum feminis terus memperjuangkan hak kaum lesbi / homoseksual di seluruh dunia dan menuntut negara mengesahkan pernikahan mereka secara hukum. Bahkan dalam perspektif feminis radikal , pasangan lesbi memiliki tempat yang “terhormat“ karena dalam hubungan heteroseksual perempuan cendrung menjadi pihak yang tersubordinasi- di mana pada pasangan lesbi, perempuan justru memiliki kontrol setara sehingga tidak terjadi dominisasi dalam hubungan seksual di antara mereka.


Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, umat Islam seharusnya lebih cerdas dan kritis dalam menyikapi agenda-agenda feminisme yang sering kali disusupkan melalui program pemberdayaan perempuan. Kemunduran yang dialami umat Islam saat ini tidak dapat diselesaikan dengan mengadopsi mentah-mentah pemikiran Barat, apalagi dengan memaksakan syariat Islam agar tunduk kepada pemikiran tersebut. Gerakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan perempuan adalah dengan kembali meneladani para muslimah di jaman keemasan Islam, bukan malah menjiplak pemikiran dan gaya hidup perempuan Barat yang kebablasan. Kajian-kajian perempuan harus difokuskan pada upaya menggali warisan khazanah pemikiran Islam di masa lalu, ketika para muslimah pada masa itu berhasil menjadi madrasah pencetak para ulama sekaligus ilmuwan besar yang memiliki keluruhan akhlak dan kekuatan iman. Suatu keberhasilan yang tidak akan pernah dicapai gerakan feminis walau kelahirannya sudah lebih dari dua abad berselang.

Sunday, 19 April 2009

AMNESIA SEJARAH



By Najma Syira

Sejarah ibarat sebuah cermin yang merefleksikan dan memberikan identitas pada sebuah peradaban. Sedangkan setiap bentuk penafsiran terhadapnya, sangat mempengaruhi sikap dan tingkah laku para pelaku sejarah di masa depan. Ketika Napoleon Bonaparte melakukan penaklukan demi penaklukan untuk menyatukan seluruh wilayah bekas kekaisaran romawi dalam kekuasaannya, Raja Prancis itu mengklaim dirinya sebagai penerus spiritual Romawi. Ia membuat dirinya dilukis mengenakan mahkota daun defnaf yang biasa digunakan kaisar-kaisar Romawi. Dan Napoleon bukan satu-satunya orang yang mendasarkan tindakannya pada sebuah penafsiran sejarah. Carl J. Richard, seorang ahli sejarah Amerika, mengatakan bahwa para pendiri Negara Amerika menghabiskan sebagian besar masa kecil dan dewasanya untuk mempelajari kitab-kitab latin klasik. Bagi mereka sejarah bukan sesuatu yang mati, tetapi sesuatu yang hidup, khususnya sejarah romawi yang penuh makna pribadi dan sosial dan kemudian berpengaruh penting bagi revolusi Amerika.

Penafsiran terhadap sejarah juga membuat seorang yahudi bernama Theodore Herzl kemudian mencetuskan gagasannya tentang ”negara Yahudi”. Gagasan tersebut akhirnya menginspirasi sebagian kaum Yahudi untuk mewujudkan cita-cita Herzl yaitu mendirikan sebuah negara di tanah yang dijanjikan Tuhan, yaitu Palestina. Jadi tidak heran jika pembantaian dan pengusiran terhadap rakyat Palestina tidak dianggap sebagai suatu dosa atau pelanggaran terhadap kemanusiaan bagi Zionis Israel, karena mereka merasa memiliki klaim teologis dan historis atas Palestina.


Bangsa Barat dan Yahudi sangat memahami nilai strategis sebuah sejarah. Oleh karena itu mereka berduyun-duyun melakukan kajian, penelitian, dan penulisan sejarah, bukan hanya sejarah mereka sendiri, tetapi juga merambah pada sejarah peradaban Islam. Di saat yang sama umat Islam justru mengalami amnesia terhadap sejarahnya, kehilangan jati diri, dan tidak bangga terhadap ke Islamannya. Seiring dengan memudarnya tradisi keilmuan di kalangan umat Islam, penulisan sejarah Islam banyak dilakukan oleh kaum orientalis dan murid-muridnya yang membela propaganda mereka. Padahal menurut Muhammad Quthb, karya-karya mereka memiliki kelemahan dari sisi metodologi, jauh dari tanggung jawab ilmiah, dan diwarnai motivasi untuk mewujudkan tujuan tertentu yang tersembunyi di dalam dada orang-orang yang tidak menginginkan agama Islam berkembang dengan baik (1995 ). Cobalah teliti lebih cermat buku-buku sejarah Islam yang bertebaran di toko buku saat ini. Kita akan dengan mudah menemukan sebagian besar buku sejarah peradaban Islam di Indonesia, merupakan buah karya orientalis atau muslim yang terpengaruh oleh pemikiran mereka. Mereka (musuh-musuh Islam-red) telah melakukan upaya sistematis dalam mendekonstrusi sejarah Islam sampai umat Islam benar-benar melupakan kegemilangan sejarah peradabannya di masa lalu.

Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, maka umat tidak memiliki pilihan kecuali memahami sejarahnya melalui kacamata barat yang jauh dari nilai-nilai Islam. Barat dengan tafsiran barunya, bebas memberi label dan mencitrakan umat Islam sesuai kehendak dan prasangka mereka. Dalam perspektif barat, siapapun yang ingin mengembalikan kejayaan peradaban Islam akan diberi cap teroris, radikal, fundamentalis dan diperlakukan sebagai musuh peradaban barat. Kita tahu barat telah menyematkan label ”teroris” kepada Hamas, hanya karena mereka berjuang secara konsisten untuk membebaskan Palestina dari cengkraman penjajah Israel. Mereka yang menganggap Hamas bertanggung jawab atas penyerangan Israel ke jalur Gaza, pasti terkena “amnesia sejarah” dan melupakan (atau sengaja melupakan) jejak berdarah yang ditinggalkan Negara Yahudi di bumi Palestina sejak tahun 1948. Israel tidak akan pernah berhenti melakukan teror terhadap rakyat Palestina sebelum bumi Palestina seluruhnya jatuh dalam genggaman mereka.

Amnesia sejarah membuat para pemimpin Islam melupakan siapa musuh mereka sebenarnya. Betapa memilukan menyaksikan beberapa pemimpin Islam takluk pada tekanan barat dan ”dipaksa” duduk bersama mereka ketika hujan bom dan peluru Israel membumi hanguskan Gaza. Mereka berbicara tentang HAM dan perdamaian, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menghapus penjajahan dari bumi Palestina. Mereka juga mengklaim sebagai negara paling demokratis, tetapi memboikot kemenangan Hamas dalam pemilu tahun 2006 dan membiarkan Gaza diblokade dari dunia luar sehingga terjadi krisis kemanusiaan. Umat Islam lupa jika dunia Eropa dan Amerika berdiri dalam satu barisan dalam menghadapi dunia Islam, dan jiwa perang salib masih tetap melekat di dada mereka, begitulah menurut Sayyid Quthb, seorang tokoh pergerakan Ikhawanul Muslimin yang menjadi cikal bakal berdirinya Hamas.

Kita tidak sedang menghakimi seluruh masyarakat barat, tetapi tidak bisa dipungkiri, pemerintahan di negara-negara barat telah lama terjangkiti sindrom Islamophobia. Dunia boleh lupa pada pidato Bush ketika tentara Amerika melakukan penyerangan ke Afghanistan dan menganggap perang itu sebagai crussade atau ”Perang Salib”, tetapi sebagai umat Islam, kita tidak boleh melupakan fakta sejarah ini. Kita adalah saksi hidup kebiadaban yang dipertontonkan Israel, Amerika dan sekutu-sekutunya terhadap dunia Islam, maka umat Islam harus mendokumentasikan peristiwa tragis itu dalam sebuah catatan sejarah yang akan dibaca oleh generasi muslim di masa depan, agar mereka bersatu padu dalam menghadapi setiap kekuatan yang mencoba menghancurkan umat Islam.

Kita mungkin berharap seorang pahlawan seperti Salahuddin Al Ayubi akan datang membebaskan bumi Palestina dari penjajahan Zionis Israel. Padahal sosok Salahudin tidak serta merta muncul tanpa suatu sebab yang mendahuluinya. Ia adalah produk sebuah peradaban yang lahir dari rahim para ulama yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan hidup. Sejatinya, ini adalah tugas besar bagi umat Islam untuk menelaah, mengkaji dan menafsirkan kembali sejarahnya dengan benar, tidak hanya mengekor pemikiran orientalis yang notabene tidak pernah merasakan ruh Islam bergejolak dalam dada mereka. Sejarah jangan lagi diperlakukan sebagai kumpulan fakta dan menjadi tumpukan dokumentasi masa lalu, tetapi umat Islam harus mampu menjadikan sejarah sebagai pelajaran berharga dalam bentuk rangkaian aturan-aturan Allah (sunnatullah) yang sangat efektif membantu menemukan jalan menuju kemajuan beradaban dan menghindari kesalahan-kesalahan generasi masa lalu.

Saturday, 18 April 2009

Siluet Senja di Ghaza



Senja di Ghaza. Kota di mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku mengendap-endap menyelinap ke sebuah bangunan kumuh dan tak terawat. Pintunya berderik keras ketika dibuka, Di sudut ruangan tergeletak sebuah lemari reot dipenuhi tumpukan buku-buku yang telah berdebu. Sepasang kursi malas mengapit lemari itu, yang tak kalah tua dan usangnya. Kuletakkan senjata laras panjang di atas bangku itu dengan hati-hati, begitu juga topeng hitam yang biasa menyelimuti wajahku. Perlahan-lahan aku bergerak masuk dan berdiri terpaku dalam tawanan sepasang mata hitam yang menatap dingin dari dalam sebuah kamar.
“Mengapa engkau kemari ?” suara serak perempuan tua itu masih sama. Usia tidak mampu menaklukan kekuatan ruhiah yang terpancar dari kata-katanya. Aku terdiam tak mampu membalas tatapan matanya. Dari sudut mataku kulihat dua bocah laki-laki tertidur pulas di atas pembaringan. Wajah mereka yang putih dan pucat mengingatkanku kepada ibu mereka. Hatiku nelangsa membayangkan masa depan macam apa yang akan dihadapi mereka.
“Maafkan aku karena kelemahan hatiku, tapi … ijinkan aku untuk berada di sini sebentar saja,” kataku setengah memelas, tak berdaya dihadapan perempuan tua yang telah melahirkan dan membesarkanku. Wajah perempuan yang selalu berhiaskan senyuman itu kini terlihat keras dan dingin, seolah tak mengharapkan kehadiranku dihadapannya. Aku merasa canggung dengan sambutannya yang kaku. Tapi aku memaklumi kekecewaannya. Ia pernah berpesan untuk tidak kembali menemuinya jika tidak ada hal teramat penting yang ingin disampaikan. Hal itu bisa membahayakan keselamatan kami semua.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kami larut dalam keheningan untuk sesaat. Rasanya ingin aku bersimpuh seperti dulu…. tapi kini aku tak mampu.
“Apa yang meresahkanmu ?” bibirnya yang keriput bergerak lambat. Mencoba menebak apa yang sedang berkecamuk dalam hatiku. Aku menelan ludah, mencoba menghindari tatapan matanya.
“Aku mungkin … ” ujarku gemetar. Wajah muramku semakin muram. “…aku mungkin tak bisa meneruskan perjuangan ini...” kataku penuh duka. Kenyataan itu mengiris hatiku dan meluluh lantakan ketegaranku. Ketika peluru panas dari senjata yang kupegang, menembus tubuh seorang laki-laki yang kemudian meregang nyawa dihadapanku. Aku tercenung… tak mampu melanjutkan kata-kataku. Bayang-bayang pertempuran itu merobek kulit yang membungkus jiwaku. Mengucurkan darah yang sulit untuk kuhentikan. Betapa bodohnya dia… bukankah musuh kita sama ? bukankah seharusnya kita bersatu mengusir penjajah yang merampas tanah air dan hak rakyat Palestina? Mataku memanas. Ada monster bergerak-gerak dalam perutku. Aku muak… muak dengan segala yang kurasakan.
Pandangan perempuan tua itu semakin menusuk… kerutan di wajahnya kini terlihat jelas. Ada duka bergelayut, tetapi ekspresinya masih tetap sama.
“Jadi kau hendak mundur ?” katanya kaku. Sekilas kulihat kekecewaan berkelebat di matanya, bergantian dengan kekhawatiran.
“Aku…. aku tak tahu…” ujarku getir. Bagaimana mungkin aku mundur dan membiarkan kaum yang dilaknat Allah itu menghancurkan kiblat pertama umat Islam. Tapi kini aku harus berhadapan dengan sesama rakyat Palestina, saudara-saudara kami yang bersikap lemah terhadap tekanan sekutu-sekutu Zionis Israel. Bagaimana mungkin saudara kami masih percaya dengan janji manis mereka ? Mereka memaksakan demokrasi ala Barat di Negara kami. Tapi ketika kemudian hasilnya tidak sesuai dengan keinginan mereka, dengan mudah mereka mengkhianatinya… dengan mudah mereka menodainya.
Perempuan tua yang prinsip hidupnya terpancang kuat bagai karang dilautan, kini bangkit perlahan dari duduknya. Ia bergerak menghampiriku dengan kaki pincangnya karena pengeroposan tulang yang dideritanya. Gamis hitam yang membalut tubuhnya terlihat begitu lusuh dan bulukan. Perang telah membuat kami semua tak lagi memikirkan kesejahteraan. Bisa bertahan hidup sampai saat ini rasanya sudah merupakan suatu anugrah yang layak untuk disyukuri. Disyukuri karena kami masih memiliki waktu untuk beramal di dunia dengan berjuang. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berjihad seperti layaknya kami, bangsa Palestina. Begitu selalu kudengar dari mulut kecil perempuan tua yang kini telah berdiri di hadapanku.
Aku menatapnya lama sekali. Wajah tirusnya terlihat pucat seperti pualam dengan kantung mata menggantung di bawah kedua matanya yang selalu bersinar cerah. Ingin sekali kuserahkan segala kegelisahanku pada jiwanya yang begitu damai. Tak pernah ia khawatir kehilangan apapun kecuali harga diri dan keimanannya. Tak pernah kulihat ia mengeluh pada saat dirinya harus menjaga diriku dan kedua kakakku yang masih kecil-kecil, pada saat suaminya tercinta diambil dari sisinya. Abi gugur sebagai syuhada, begitu yang selalu ia ceritakan pada kami.
“Ini bukan pertama kalinya kau menghadapi saudaramu. Jauh sebelum ini, selalu ada orang yang menodai kehormatan bangsanya sendiri,” kata-katanya keras menghujam bagai belati yang merobek-robek hati pendengarnya. Aku terpekur… gelisah, badanku mengeluarkan keringat dingin yang tak bisa kucegah. Sepertinya hawa dingin mendekapku seketika dan menggrogoti sel-sel dalam tubuhku.
“Benarkah yang kulakukan ?” tanyaku pasrah. Aku sekali lagi hendak menyandarkan kegalauanku di pundaknya yang kecil, tapi kekuatan jiwanya jauh lebih besar dari tubuhnya yang ringkih. Matanya yang bercahaya seketika meredup, seolah ia baru saja mendapatkan berita buruk. Ia terdiam sesaat, kemudian menjawab pertanyaanku sambil memegang tanganku yang kasar, penuh dengan bekas luka akibat pertempuran.
“Mempertahankan kebenaran selalu menuntut pengorbanan. Jangan pernah berharap jalan itu akan mudah.” katanya sambil meremas tanganku dengan keras, seolah hendak mengalirkan semangat hidupnya kepadaku.
Aku menunduk, menatapi ujung sepatuku yang solnya sudah sedikit menganga. Aku tahu benar kemana arah percakapan ini. Ia telah menegaskan sejak dulu, bahwa jiwa seorang muslim telah tergadai kepada Allah. Ketika seorang muslim meyakini bahwa hanya Allah semata yang menjadi tujuannya hidupnya, maka dirinya tak akan lemah. Jika kesenangan meliputinya, seorang muslim akan bersyukur, dan ketika kesulitan dating menjerat, ia akan bersabar. Allah menyukai muslim yang kuat, itu yang biasanya dikatakan perempuan tua itu pada saat kesukaran demi kesukaran dilaluinya dengan tenang dan tegar.
Tapi kini kesedihan dan kemarahan sepertinya justru melemahkan diriku. Bagaimana mungkin sebagian pemimpin di negeri ini, yang seharusnya mengobarkan semangatnya untuk memerangi para penjajah, justru tergoda melihat dolar-dolar yang disebarkan oleh musuhnya. Memungutinya karena takut lapar, dan rela mengkhianati bangsanya sendiri. Apakah mereka lupa, bahwa Rosulullah dan para sahabat pernah diboikot oleh kaum kafir Mekah selama 3 tahun, tetapi mereka tetap kuat mempertahankan akidahnya ? mengapa kini sebagian saudara-saudara kami, rela dijadikan budak-budak yang mengabdi pada kepentingan Zionis demi kekuasaan ? Sungguh menyedihkan… tak pernah kulihat hal yang sebodoh ini.
Mata perempuan tua itu mengamati diriku tanpa berkedip, sepertinya ia berusaha menahan kerinduan yang nyaris meledak dari dalam dadanya. Sudah hampir dua tahun aku tidak bertemu dengannya. Kutinggalkan dua laki-laki kecil, buah cintaku, dalam pengasuhannya. Ketika pagi itu bom Zionis menggelegar, meluluh lantakan pasar dekat tempat tinggalku, dan menewaskan puluhan nyawa tak bersalah. Salah satunya adalah istriku yang saat itu sedang mengandung anakku yang ketiga. Kenangan itu kembali menari-nari dalam ingatanku. Aku begitu merindukan istriku. Berharap senyumnya muncul dari balik pintu kamar ini dengan anak-anak dalam pangkuannya, dan menguatkan diriku yang lemah dan tak berdaya.
Mataku kembali memanas, kemudian butiran bening itu perlahan-lahan merebak di sekitar bola mataku. Kutahan sekuat tenaga agar mereka tak bergulir memenuhi pipiku. Aku tak membebani perempuan tua yang amat kucintai dengan emosi yang akan semakin memperlemah diriku . Tapi rasanya semua sia-sia. Ia telah menelanjangi hatiku dengan intuisinya dan naluri keibuanya yang begitu kuat.
“Menangislah … kau hanya manusia anakku… “ ujarnya pelan. Kekakuannya mulai menghilang, wajah tua itu mendadak melunak. Aku merasa kembali menjadi bocah berumur belasan tahun, yang selalu dihibur perempuan tua di hadapanku tiap kali aku merasa sedih . “Bukankah Rosulullah juga mengalami seperti yang kau rasakan, ketika ia kehilangan istri yang sangat ia cintai dan paman yang selalu membelanya ? Ia pun merasa sedih, ketika dakwah yang ia sampaikan berujung kepada penghinaan dan penyiksaan.” katanya lembut mencoba membesaran hatiku. Senyum mengembang dari sudut mulutnya yang mungil.
Aku menghela nafas sambil mengusap sebutir air mata yang jatuh dari sudut mataku. Tiba-tiba aku merasa begitu lelah dan letih. Aku berjalanan mendekati pembaringan di mana kedua anak laki-lakiku tertidur pulas. Kurebahkan badanku di sisi mereka, yang tak sadar akan kedatangan ayah yang tak pernah bisa mendampingi mereka. Kening mereka kukecup satu demi satu, diiringi doa dan pengharapan agar suatu hari kedamaian dapat kembali kami rasakan.
Kutatap langit-langit kamar yang masih sama ketika dulu aku tinggalkan. Seketika pikiranku mengembara ke masa lalu, ketika suara perempuan dihadapanku mengisi hari-hariku. Kamar ini merupakan saksi betapa kuatnya pengaruh seorang ibu dalam membentuk karakter anak-anaknya. Aku masih ingat, ia selalu mengisi malam-malam kami yang mencekam dengan cerita perjuangan Rosulullah. Matanya berbinar-binar walaupun suara sirene dan tembakan bersaut-sautan di sekitar kami. Saat itu biasanya aku dan kedua kakakku akan gemetar ketakutan, menangis terisak-isak atau bahkan berteriak-teriak memanggil-manggil abi kami yang entah ada dimana. Tetapi perempuan hebat itu selalu berhasil menguatkan kami dengan cerita-ceritanya. Ia bercerita tentang kegigihan Rosulullah dalam menyampaikan kebenaran Islam. Tentang pertempuran-pertempuran yang dihadapi Rosul dan para sahabat dalam menegakkan panji-panji Islam di muka bumi. Ia juga berulang-ulang memberitahu kami, bahwa Rosulullah dan para sahabat tak pernah sedikitpun tergiur menerima tawaran harta, tahta dan kenikmatan dunia yang ditawarkan untuk membeli keimanan mereka. Rosulullah juga tak pernah bersekutu dengan orang-orang kafir untuk memerangi orang muslim lainnya. Umat muslim adalah umat yang terbaik, selama mereka tetap berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Hadits, begitulah keyakinan yang selalu ia tanamkan dalam benak kami.
Aku menelan ludah. Mataku beralih membalas tatapan wajah tua yang masih menatapku penuh arti. Sekarang lihatlah kondisi umat yang kau banggakan, wahai Umi. Bagaimana kau masih bisa tersenyum, padahal kemaksiatan dan keburukan dikemas sedemikian indahnya oleh musuh-musuh kami, seolah-olah ia adalah suatu kebenaran. Sedangkan Al Qur’an dan Hadits sudah sejak lama ditinggalkan dan hanya menjadi barang pajangan di rumah – rumah kaum muslimin. Bagaimana kau menahan air matamu, ketika melihat para pemimpin umat ini berbondong-bondong menjual harga dirinya kepada kaum Zionis. Mereka mengundang para tentara kafir ke negerinya, kemudian memberondong saudara mereka sendiri dengan bom dan granat untuk mendapatkan kekuasaan ?
Lalu, bagaimana hatimu mampu meredam luka kekecewaan, ketika melihat sebagian umat muslim lainnya terjajah tanpa sadar. Mereka dibanjiri produk-produk Zionis yang sebagian dari keuntungannya digunakan untuk membeli peluru untuk menembaki bocah-bocah muslim di Palestina, Irak, Afganistan dan negeri-negeri muslim lainnya. Itu kenyataan Umiku. Aku juga yakin kau akan memilih untuk menjadi buta dan tuli, dari pada mendengar berita-berita palsu yang disebarkan oleh Zionis ke rumah-rumah keluarga muslim di seluruh dunia. Berita yang memfitnah dan mengadu domba. Berita yang membuat kami saling curiga dan terjebak dalam perang saudara yang tak kami inginkan. Lalu bagaimana kami bisa bertahan ?
Dadaku terasa sesak. Rasanya tidak mungkin menyatukan umat yang telah terpecah belah. Kami sudah terlalu buruk, tak ada lagi yang tersisa. Benar, jumlah kami memang banyak. Tapi kami tak lebih dari buih yang melayang-layang, tak memiliki kekuatan untuk menghadapi musuh. Kami dikepung dari segala penjuru, tak ada jalan untuk keluar. Ya… tak ada jalan keluar.
“Jangan pernah berputus asa dari rahmat-NYA …” tiba-tiba suara perempuan tua itu memutuskan lamunanku, seolah ia dapat membaca pikiran yang ada dalam benakku. “…tetaplah berjuang anakku. Berjuanglah seperti Hamzah, Umar dan para syuhada lainnya. Sandarkanlah niatmu hanya kepada Sang Pemilik Hidup,” kata-katanya, sekali lagi, begitu tenang dan menggetarkan.
Tiba-tiba suasana perang uhud seperti terbanyang dalam kepalaku. Ketika pertama umat Islam meperoleh kemenangan, semua terlena… tetapi kemudian kemenangan itu berbalik. Khalid bin Walid, yang ketika itu masih memimpin kaum kafir, berhasil memporak porandakan pasukan pemanah muslim yang tergiur oleh harta rampasan perang. Pasukan muslim tercerai berai, panik dan kehilangan arah. Sebagian dari mereka bahkan putus asa begitu mendengar kabar bahwa Rosulullah telah tiada. Tetapi sebagian dari mereka tetap bertahan, dengan darah dan nyawanya. Panji-panji Islam dipertahankan walau tubuh mereka tercacah pedang dan ratusan anak panah menghujani. Mereka bangkit… walau dengan sisa-sisa nafas yang masih mereka miliki.
“Janganlah kamu bersedih, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.* Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita,**“
Aku segera beristigfar mendengar kutipan Ayat-ayat Allah yang bergulir lembut dari mulut perempuan itu… badanku seperti ditarik ketika hampir saja terjatuh ke dalam lubang gelap yang dalam dan tak berujung. Tubuhku yang basah oleh keringat kini terasa sangat nyaman. Perlahan-lahan kutarik nafas panjang sambil kupejamkan kedua mataku. Aku dapat melihat wajah istriku yang cantik tersenyum kepadaku. Ia mengenakan pakaian sutra yang sangat indah sambil duduk di antara butiran mutiara di sisi sebuah telaga. Telaga itu sangat indah, airnya lebih putih dari susu, batu-batunya adalah intan berlian, dan mutiara. Disamping istriku, wajah Abi yang teduh dan kedua kakakku yang syahid belum lama ini, melambai riang kepadaku.
“Aku mencium wangi surga , Umi……” kataku lamat-lamat.
Perempuan tua itu tersenyum. Sinar matanya memancarkan cahaya keemasan yang merangkak naik menuju cakrawala nan luas, membiaskan siluet senja yang sangat indah. Siluet senja di Ghaza.

Depok, November 2007
______________________________________________________
* QS. Ali ‘Imran 139
** QS. At-Taubah 40

Friday, 22 August 2008

Cintai Ilmu Raihlah Surga



Oleh : Najma Syira

“Barang siapa yang meniti jalan untuk memperoleh ilmu, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah Allah (Masjid), membaca kitab Allah dan mempelajarinya, nicaya turun kepada mereka ketenangan, rahmat melliputi mereka, para Malaikat berkerumun di sekelilingnya dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang berada di sisi-Nya.”(HR. Muslim).

Islam adalah agama yang menjadikan tradisi keilmuan sebagai corak peradabannya. Tidak ada agama-agama lain yang menjadikan proses mencari ilmu sebagai suatu kewajiban bagi para pemeluknya, kecuali agama Islam. Sebagimana telah diriwatkan dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu dari Nabi Muhammad Sholallahu’alaihi wassalam, beliau bersabda ,

“Mencari ilmu itu fardhu (wajib) atas setiap orang muslim .” (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah).

Kewajiban mengandung beberapa konsekuensi, salah satunya adalah adanya unsur paksaan jika seseorang tidak mau melakukan perbuatan mencari ilmu. Tidak salah, tapi sungguh indah jika kita bisa menghadirkan cinta dalam proses mencari ilmu. Sebagaimana kita temukan banyak hadits-hadist Rosullah yang menunjukan kecintaan Allah kepada para pencari ilmu. Lihatlah bagaimana Allah memberikan ganjaran Surga kepada mereka, bahkan bukan hanya itu. Allah menjanjikan surga yang berbeda hanya satu derajat dengan para Nabi. [1] Allah juga menunjukan kecintaannya dengan mengerahkan malaikat untuk membimbing para pencari ilmu. Betapa bahagianya mereka karena para malaikat meletakan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu.

“Sesungguhnya para malaikat benar-benar meletakan sayapnya kepada orang yang mencari ilmu, karena ridha terhadap apa yang dicarinya,” (Diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Ibnu Majah).

Rosul mengilustrasikan bahwa kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang-bintang [2] Pada saat bulan purnama, bulan bersinar memenuhi ruang di sudut-sudut bumi dengan cahayanya yang terang. Begitulah orang berilmu, hatinya yang bercahaya akan menyinari hati-hati manusia yang gelap. Jiwanya yang terang akan memberikan petunjuk bagi mereka yang meniti jalan munuju kebenaran Ilahi.
“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?” (Az-Zumar : 9)

Dalam tafsirnya, Sayyid Qutb menyatakan bahwa ilmu yang hak merupakan makhrifat, merupakan pemahaman atas kebenaran, merupakan terbukanya mata hati, dan merupakan keterkaitan dengan aneka hakikat yang kokoh di alam semesta ini. Ilmu bukanlah pengetahuan yang berdiri sendiri, yang terpisah dan hanya mengisi nalar, yang tidak sampai ke berbagai hakikat alam semesta, dan tidak menjangkau apa yang ada di balilk suatu realita[3]

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadillah : 11)

Ilmulah yang membina jiwa, lalu dia bermurah hati dan taat. Kemudian iman dan ilmu itu mengatarkan seseroang kepada derajat yang tinggi di sisi Allah. Derajat ini mereupakan imbalan atas tempat yang diberikannya denga suka hati dan atas kepatuhan kepada perintah Rasulullah. [4]

Jika Allah sangat mencintai para pencari ilmu, mengapa kita tidak merubah cara kita berinteraksi dengan ilmu? jangan sampai kita menuntut ilmu hanya karena terpaksa atau karena adanya ambisi duniawi . Cintailah ilmu, karena cinta hanya dapat diraih dengan cinta, sedangkan ilmu adalah salah satu perwujudan cinta Allah kepada makhluknya. Ilmu juga cahaya, dia tidak akan memasuki hati-hati yang didalamnya terdapat penghambaan kepada materi.

Contohlah perjuangan Imam Al-Thabari dalam mencari ilmu. Dia terlahir dari keluarga kurang mampu tetapi semangatnya mencari ilmu tidak pernah terhalang oleh keterbatasan ekonomi keluarganya. Ayahnyalah yang mampu membangkitkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, sehingga saat usianya baru 7 tahun dia sudah hapal Al Qur’an dan dalam usia 9 tahun ia mulai serius mempelajari hadits. Saat menginjak 12 tahun (236H), al-Thabari dilepas ayahnya untuk memulai petualangan panjang keluar tanah kelahirannya guna mencari ilmu yang kelak kemudian menobatkannya sebagai ulama kenamaan yang karya-karya besarnya hingga kini masih dikagumi dan dipelajari.[5]

Pencari ilmu sejati tidak akan membiarkan proses pencariannya itu dikotori oleh perbuatan yang akan menyebabkan hilangnya keberkahaan ilmu. Dia tidak mencari popularitas dan gelar semata sehingga seorang yang benar-benar mencintai ilmu tidak akan pernah berhenti belajar walau ia sudah mendapatkan setumpuk gelar, karena bukan itu tujuan utamanya. Orang yang mencitai ilmu akan selalu rindu untuk menemukan sesuatu yang baru, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan berkeinginan kuat untuk membaginya kepada orang lain. Para pencari ilmu bukan orang-orang yang egois yang ingin menyimpan ilmunya untuk diri mereka sendiri.

Ilmu hanya akan membuka dirinya pada orang yang benar-benar memperjuangkannya. Jadi tak heran jika hambatan dan tantangan dalam mencari ilmu begitu beragam dan banyak. Seorang pencinta ilmu tidak akan mudah berputus asa apalagi sampai menyerah. Perjuangan mencari hikmah dalam lautan ilmu Allah adalah adalah sebuah jihad yang menuntut pengorbanan jiwa dan raga, moril dan materil, karena surga tidak bisa dibeli dengan harga murah.

Perjalanan menyusuri lekuk-lekuk hikmah dalam lautan ilmu-Mu
Adalah sebuah cinta yang tidak pernah berakhir
Cinta yang memberiku sayap
Untuk terbang menyapa-Mu
Cinta di atas cinta
Yang menaburkan kekuatan
Memberikan harapan
Untuk bisa menatap wajah-Mu


REFERENSI :

Al Qur’anul Qariim

Asep Sobari, Ibn Jarir Al-Thabari (224H-310H) Pencari Ilmu Sejati dan Ulama Ensiklopedis, Makalah Diskusi INSISTS, Jakarta, 2008.

Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin, Jalan Orang-orang yang Mendapat Petunjuk, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 2007

Mustafa Dieb Al-Bugha Muhyiddin Mistu, Al-Wafi, Menyelami Makna 40 Hadits Rasulullah, Syarah Kitab Arba’in An-Nawawiyah, Al-I’tishom, Jakarta, 2003.

Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di bawah Naungan Al Qur’an, Jilid 10, Gema Insani Press, Jakarta, 2004.

Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di bawah Naungan Al Qur’an, Jilid 11, Gema Insani Press, Jakarta, 2004.




[1] HR. Ath-Thabarani dan Ad-Darimi. Hadits ini hasan mursal.
[2] HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban
[3] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di bawah Naungan Al Qur’an, Jilid 10, hal. 70
[4] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Di bawah Naungan Al Qur’an, Jilid 11, hal 194.
[5] Dikutip dari makalah diskusi INSISTS oleh Asep Sobari, dengan judul “ Ibn Jarir Al-Thabari (224H-310H) Pencari Ilmu Sejati dan Ulama Ensiklopedis.”